Khathib di masjid kami selalu menutup khutbah kedua dengan ucapan, "Astaghfirullaha li wa lakum wa kaafatil-muslimiin (Saya memohonkan ampunan kepada Allah untukku, Anda semua dan seluruh kaum Muslimin).
"Terkadang dia mengucapkan, "As'alullaha li wa lakum al-firdaus al-a`laa (Saya memohon kepada Allah untuk memasukkan saya dan Anda semua ke dalam surga Firdaus yang tertinggi)."
Ini adalah doa yang terbaik, karena Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,
حولها ندندن
"Permohonan kami adalah di seputar itu (maksudnya, doa kami berkisar pada permohonan agar dimasukkan surga dan diselamatkan dari neraka)."
Akan tetapi, sebagian makmum berkata, "Ini adalah hari yang agung dan di dalamnya terdapat waktu mustajab untuk doa. Kami ingin doa yang diapanjatkan lebih panjang dan sesuai kondisi.
Misalnya, meminta hujan di saat kemarau, mendoakan kaum Muslimin agar mendapatkan kemenangan, mendoakan para pemimpin agar mengikuti kebenaran, mendoakan agar para musuh tercerai berai dan barisan mereka kacau balau, dan doa-doa lain yang sesuai kondisi.
Akan tetapi, khathib tersebut berkata, Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam tidak pernah berdoa dengan satu doa saja ketika khutbah, demikian juga dengan para Khulafaur Rasyidin dan para sahabat setelahnya.
Saya berjalan sesuai dengan manhaj mereka. Hal ini mengakibatkan sebagian makmum meninggalkan masjid di tempat kami dan pergi ke masjid yang lebih jauh. Alasan mereka, imam di masjid yang lebih jauh menutup khutbah dengan doa yang panjang dan banyak, lalu mereka mengamininya.
Mereka tidak punya alasan lain dalam meninggalkan masjid yang dekat dari rumah mereka tersebut, kecuali karena imam tidak berdoa sesuai dengan kondisi. Bagaimana agama menanggapi masalah ini? Apa nasehat Anda kepada kami? Dari kedua pendapat ini, mana yang benar?